sebuah renungan dari sebuah kisah

oleh : Raden Anom Arya Kemuning

Dikisahkan disebuah kota kecil tinggallah seorang saudagar yang masih muda usia, Si Pemuda berwajah tampan dan hidup berlimpah harta sayangnya sifatnya sangat sombong tinggi hati mau menang sendiri, suka menyinggung perasaan orang lain bahkan sering menindas orang kecil disekitarnya, hingga suatu hari si pemuda merasa tidak tenang dan menyimpan amarah didalam hati. Saat menyadari orang-orang disekitar dia mulai mengucilkan dan menjauhi dirinya, kemudian pemuda itupun memutuskan untuk mendatangi seorang guru bijak: Guna meminta syaran dan nasehatnya setiba disana setelah mendengar masalaha si Pemuda sang Guru pun Berujar dengan bijak “Anak Muda setiap saat kamu berbuat Jahat/ menyakiti hati Orang lain tandailah dengan menancapkan satu paku di atas pagar depan rumahmu demian seterusnya”. Dan datanglah kembali padaku ketika pagar dirumahmu sudah berisi penuh dengan PAKU yang kamu tancap sendiri.

Setelah mendapat nasehat pulanglah si Pemuda kerumahnya dan melakukan seperti apa yang dipesankan guru bijak kepadanya. Setiap kali berbuat jahat atau menyakiti hati orang lain dia tancapkan paku dipagar rumahnya. Selang beberapa bulan kemudian pagarpun telah penuh oleh tancapan paku, si pemuda merasa lelah dan tidak bahagia, dia merasa tidak berdaya merubah keadaan ini, maka datanglah kembali si Pemuda ke guru bijak untuk meminta wejangan. Melihat pemuda itu dating kembali sang guru berkata “anak muda kedatanganmu kali ini, tentu pagar rumahmu telah penuh dengan paku” sekarang berbuatlah sebaliknya yaitu: “Setiapkali berbuat baik atau tidak jadi berbuat jahat kepada orang lain, maka cabut satu paku dari pagarmu, bila nanti paku habis tercabut datanglah kembali kesini” dengan patuh dijalaninya pesan sang guru hingga beberapa bulan kemudian pakupun telah tercabut habis dan tanpa disadari si pemuda telah berubah menjadi seseorang yang lebih sabar, mau mengerti orang lain dan lebih bijak, datanglah kembali sipemuda menemui sang guru bijak, Gurupun berkata anak muda sekarang engkau sudah menjadi orang yang berbeda lebih sabar dan bijak. Lalu pelajaran apa yang bisa dipetik dari hasil kerjamu menancap dan mencabut paku dip agar rumahmu??? Sang guru melanjutkan perhatikan baik-baik meskipun semua paku sudah kamu cabut di depan pagar rumahmu tetapi bekas lubang paku tetap masih ada, dan dipoles sebagus apapun tidak bisa mengembalikan pagar kembali seperti sediakala, sama seperti halnya perbuatan yang telah kita lakukan, setiap kali kita melakukan kesalahan terhadap orang lain kemudian meminta maaf, kita selalu berharap orang lain mau memaafkan kita, dan kita anggap masalahnyapun selesai sampai disitu, namun…!!! Kenyataannya tetap masih ada bekas lukanya. Alangkah sejuknya jika kita dapat hidup harmoni dengan manusia lain tanpa saling memusuhi dan menyakiti seperti pepatah bijak mengatakan “Punya satu musuh kebanyakan Punya seribu teman kekurangan” Mari… dimulai dari diri kita sendiri untuk menjadi manusia baik dan bisa menjadi teman yang baik bagi orang lain. Semoga bermanfaat gan. Salam Cantrik ..!

Satu Tanggapan to “sebuah renungan dari sebuah kisah”

  1. Aria dwi pangga Says:

    pertamaxxxxxx….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: